How to Read an Archive
An archive is more than a collection of things.
Ketika seseorang membuka sebuah arsip, mudah untuk melihatnya hanya sebagai kumpulan produk, gambar, nama, tanggal, dan catatan.
Namun sebuah archive seharusnya dibaca lebih jauh dari itu.
Setiap objek berada di dalam konteksnya sendiri.
Sebuah produk berasal dari sebuah chapter.
Sebuah desain berasal dari sebuah keputusan.
Sebuah collection berasal dari sebuah pemikiran.
Sebuah ownership berasal dari sebuah perjalanan.
Dan sebuah peristiwa berasal dari sebuah waktu yang tidak dapat diulang.
Karena itu, tidak semua bagian archive harus dibaca dengan cara yang sama.
Ada sesuatu yang menjelaskan apa sebuah objek.
Ada yang menjelaskan mengapa objek tersebut dibuat.
Ada yang menjelaskan bagaimana ia dibuat.
Dan ada yang mencatat apa yang terjadi setelahnya.
Semua memiliki fungsi berbeda.
Curator Notes hadir untuk memberikan konteks di antara semuanya.
Bukan untuk menentukan bagaimana seseorang harus merasakan sebuah objek.
Tetapi untuk membantu memahami mengapa objek tersebut memiliki tempat di dalam archive.
Karena nilai sebuah arsip tidak hanya berasal dari banyaknya sesuatu yang berhasil disimpan.
Nilainya juga berasal dari kemampuan untuk menjaga konteks.
Tanpa konteks, sebuah objek hanya menjadi benda lama.
Dengan konteks, seseorang dapat memahami perjalanan di baliknya.
Itulah mengapa CHAPELLIA tidak ingin archive hanya menjadi tempat penyimpanan.
Kami ingin archive menjadi tempat di mana sejarah dapat dibaca, dipahami, dan diteruskan.
The archive preserves the object. The curator preserves the context.
“The archive preserves the object. The curator preserves the context.”