Inspirasi Harus Menjadi Miliknya Sendiri
Risikonya
Inspirasi bisa menjadi kuat.
Ia juga bisa menjadi jalan pintas.
Ketika sebuah referensi sudah terlihat bagus, mudah tergoda untuk berhenti pada pengenalan.
Tetapi pengenalan bukanlah penciptaan.
Jarak Antara Referensi dan Hasil
Sebuah referensi seharusnya menciptakan titik awal, bukan tujuan akhir.
Di antara keduanya seharusnya ada pemikiran.
Mempertanyakan.
Menguji.
Mengubah.
Menghilangkan.
Membangun ulang.
Jarak itu adalah tempat orisinalitas memiliki ruang untuk muncul.
Apa yang Membuatnya Menjadi CHAPELLIA
Sebuah gagasan menjadi bagian dari CHAPELLIA ketika ia bisa ada di dalam penalaran brand itu sendiri.
Ia seharusnya memiliki tujuan.
Ia seharusnya mendukung karakter objeknya.
Ia seharusnya masuk akal di dalam chapternya.
Ia seharusnya bisa berdiri tanpa membutuhkan audiensnya mengetahui referensi aslinya.
Bagian terakhir itu penting.
Karya akhirnya seharusnya memiliki identitasnya sendiri.
Ketika Referensinya Menghilang
Hasil terbaiknya tidak selalu berupa referensi yang dikenali.
Terkadang referensinya menghilang sepenuhnya.
Yang tersisa adalah pemikiran yang diciptakannya.
Sebuah proporsi menjadi bagian dari sebuah siluet.
Sebuah perasaan menjadi bagian dari sebuah atmosfer.
Sebuah prinsip menjadi bagian dari sebuah konstruksi.
Sebuah pengamatan menjadi bagian dari sebuah keputusan.
Pada titik itu, referensinya sudah menyelesaikan tugasnya.
Apa yang Tersisa
Inspirasi seharusnya membantu pekerjaannya menjadi lebih menjadi dirinya sendiri, bukan lebih menyerupai sesuatu yang lain.
Itulah standarnya.
Referensinya memulai pemikirannya. Pekerjaannya harus menjadi miliknya sendiri.