Mengapa Fashion Menjadi Medianya
Ada banyak cara untuk memulai.
Tetapi fashion adalah yang paling masuk akal.
Bukan karena fashion itu mudah.
Bukan karena ia menjanjikan kepastian.
Dan bukan karena ia sekadar sesuatu untuk dijual.
Fashion selalu menjadi bagian dari bagaimana seseorang mengekspresikan dirinya.
Sebuah karya dapat dikenakan setiap hari.
Ia dapat menjadi bagian dari rutinitas, identitas, kenangan, dan perubahan seseorang seiring waktu.
Itu penting.
Karena gagasannya tidak pernah hanya tentang membuat sesuatu yang dapat diproduksi dan dijual.
Pertanyaannya adalah apa yang bisa terjadi setelah seseorang membelinya.
Kebanyakan produk memiliki akhir yang jelas.
Ia dibuat.
Ia dibeli.
Pembayaran selesai.
Transaksi berakhir.
CHAPELLIA ingin mempertanyakan akhir itu.
Bagaimana jika sebuah produk dapat terus memiliki makna setelah pembelian?
Bagaimana jika orang yang membelinya bukan sekadar pelanggan, tetapi bagian dari sejarahnya?
Bagaimana jika objek itu dapat membawa identitasnya, kisahnya, dan perjalanan kepemilikannya?
Fashion memberi CHAPELLIA tempat untuk mulai menjelajahi pertanyaan-pertanyaan itu.
Bukan hanya lewat pakaian.
Tetapi lewat objek, identitas, kisah, kepemilikan, dan waktu.
Itulah mengapa fashion menjadi medianya.
Bukan karena produk adalah tujuan akhir.
Tetapi karena produk bisa menjadi awal dari sesuatu yang lebih besar.