From Decision to Object
Every finished object has a process behind it.
Sebuah produk yang akhirnya terlihat sederhana sering kali melewati proses yang jauh lebih panjang daripada yang terlihat.
Sebelum menjadi sebuah objek yang dapat digunakan, ada keputusan yang harus dibuat.
Desain harus diterjemahkan menjadi pola.
Material harus dipersiapkan.
Konstruksi harus dipahami.
Detail harus dikerjakan.
Sampel harus diperiksa.
Kemudian sesuatu yang terlihat benar di atas kertas harus dibuktikan melalui benda yang benar-benar dibuat.
Di titik inilah sebuah desain berhenti menjadi gagasan dan mulai menjadi objek.
Production Log dibuat untuk mengingat proses tersebut.
Bukan untuk membuat proses produksi terlihat sempurna.
Justru sebaliknya.
Arsip harus mampu mencatat bahwa proses nyata selalu memiliki tahap, pemeriksaan, penyesuaian, dan keputusan.
Sebuah produk mungkin tidak langsung menjadi bentuk akhirnya.
Ada bagian yang perlu diperbaiki. Ada detail yang perlu disesuaikan. Ada keputusan yang harus ditinjau kembali. Dan setiap perubahan memiliki alasan.
Karena itu, proses produksi tidak hanya menghasilkan produk.
Ia juga menghasilkan pengetahuan.
Apa yang bekerja. Apa yang tidak bekerja. Apa yang perlu dipertahankan. Apa yang tidak perlu diulangi.
Semua itu menjadi bagian dari perkembangan CHAPELLIA.
Ketika sebuah produk akhirnya dinyatakan selesai, yang terlihat hanyalah hasil akhirnya.
Namun di belakangnya terdapat rangkaian keputusan yang membuat hasil tersebut mungkin.
The object is the result. The process is the history.
Itulah yang dicatat di sini.
“The object is the result. The process is the history.”