Mengapa CHAPELLIA Didirikan
Berawal dari kehidupan itu sendiri.
CHAPELLIA berawal dari kehidupan itu sendiri. Dari kehidupan yang perlahan berubah ketika seseorang mulai dewasa.
Ketika masih kecil, hidup terasa sederhana. Kita punya mimpi, bermain, belajar, dan menjalani hari tanpa terlalu banyak memikirkan apa yang akan terjadi besok.
Namun semakin dewasa, kita mulai memahami bahwa kehidupan membawa tanggung jawab. Ada kebutuhan untuk bekerja. Ada keluarga yang harus dipikirkan. Ada masa depan yang harus dibangun. Ada kebutuhan finansial. Ada keputusan yang harus diambil. Ada risiko yang harus berani dihadapi.
Sebagai seorang laki-laki, saya mulai memahami bahwa kehidupan tidak lagi hanya tentang diri sendiri. Ada tanggung jawab yang harus dipikul. Ada orang-orang yang ingin saya bantu. Ada kehidupan yang ingin saya bangun. Ada masa depan yang ingin saya perjuangkan.
Namun kehidupan tidak selalu memberikan jalan yang mudah. Mendapatkan pekerjaan tidak selalu mudah. Membangun kehidupan yang cukup tidak selalu mudah. Bahkan ketika kita ingin mengejar sesuatu yang kita percaya, selalu ada risiko yang harus berani kita ambil.
Dari situlah saya mulai berpikir: "Kalau saya harus membangun sesuatu untuk bertahan hidup, mengapa tidak membangun sesuatu yang bisa bertahan lebih lama dari sekadar hari ini?"
Why Fashion
Saya memilih fashion karena saya percaya fashion tidak akan pernah benar-benar mati.
Tren mungkin berubah. Warna mungkin berubah. Model mungkin berubah. Tetapi manusia akan selalu membutuhkan sesuatu untuk dikenakan — sesuatu yang merepresentasikan dirinya dan menjadi bagian dari gaya hidupnya.
Namun semakin saya melihat dunia fashion, saya merasa ada sesuatu yang masih bisa dibuat lebih jauh. Banyak brand berhenti pada satu titik: produk dibuat, dibeli, pembayaran selesai, hubungan selesai.
Saya tidak ingin CHAPELLIA seperti itu.
Beyond The Purchase
Saya ingin sebuah produk memiliki kehidupan setelah pembayaran.
Ketika seseorang membeli CHAPELLIA, saya ingin pembelian itu menjadi sebuah pengalaman dan identitas, bukan hanya transaksi. Pembeli pertama harus dihargai. Produk yang mereka miliki harus memiliki identitas. Kepemilikan mereka harus memiliki cerita. Dan ketika sebuah produk berpindah tangan suatu hari nanti, sejarah kepemilikannya tetap memiliki nilai.
Karena bagi saya, sebuah produk seharusnya tidak kehilangan maknanya hanya karena transaksi telah selesai. Justru setelah transaksi, perjalanan pemiliknya dimulai.
Produk tersebut digunakan. Dibawa dalam perjalanan. Menjadi bagian dari kehidupan. Menjadi bagian dari kenangan. Dan pada akhirnya menjadi bagian dari siapa pemiliknya.
The CHAPELLIA Ecosystem
Karena itu, CHAPELLIA dibangun bukan hanya sebagai fashion brand, tetapi sebagai sebuah ekosistem.
Ada produk. Ada identitas. Ada cerita. Ada karakter. Ada koleksi. Ada kepemilikan. Ada komunitas. Ada perjalanan.
Semua bagian tersebut saling terhubung. CHAPELLIA ingin membangun hubungan yang tidak berhenti ketika pembayaran selesai. Karena bagi kami: sebuah produk tidak seharusnya hanya hidup pada titik pembelian.
Ia harus bisa terus hidup di dalam kehidupan pemiliknya. Menjadi bagian dari gaya hidup. Menjadi bagian dari kenangan. Menjadi bagian dari identitas. Menjadi bagian dari perjalanan.
What CHAPELLIA Wants To Prove
Itulah yang ingin saya buktikan melalui CHAPELLIA.
Bahwa fashion bisa menjadi lebih dari sekadar pakaian. Bahwa sebuah produk bisa memiliki kehidupan setelah transaksi. Bahwa pembeli pertama bukan sekadar seseorang yang memberikan uang kepada sebuah brand, tetapi seseorang yang ikut menjadi bagian dari perjalanan brand tersebut.
Dan bahwa semakin jauh sebuah brand berjalan, semakin besar pula tanggung jawabnya untuk menghargai orang-orang yang berjalan bersamanya sejak awal.
Saya tidak tahu sejauh apa CHAPELLIA akan berjalan. Saya juga tidak tahu seperti apa bentuknya bertahun-tahun dari sekarang. Tetapi saya tahu satu hal: saya tidak ingin hanya menciptakan sebuah brand. Saya ingin membangun sesuatu yang suatu hari bisa menjadi lebih besar daripada saya sendiri.
Sesuatu yang dapat terus berkembang. Sesuatu yang dapat memiliki cerita. Sesuatu yang dapat memiliki generasi. Dan sesuatu yang tetap memiliki arti bahkan ketika orang yang memulainya sudah tidak lagi menjadi pusatnya.
The Beginning
Pada akhirnya, semuanya dimulai dari kebutuhan yang sangat sederhana: ingin memiliki kehidupan yang cukup, membangun masa depan, membantu keluarga, dan menciptakan sesuatu yang memiliki arti.
Dari kebutuhan itu lahir sebuah keputusan. Dari keputusan itu lahir sebuah brand. Dan dari sebuah brand, kami ingin membangun sebuah dunia.
CHAPELLIA. Berawal dari kehidupan itu sendiri. Dibangun untuk hidup lebih lama dari sebuah transaksi.
“Kalau saya harus membangun sesuatu untuk bertahan hidup, mengapa tidak membangun sesuatu yang bisa bertahan lebih lama dari sekadar hari ini?”
“Sebuah produk tidak seharusnya hanya hidup pada titik pembelian.”
“Saya tidak ingin hanya menciptakan sebuah brand. Saya ingin membangun sesuatu yang suatu hari bisa menjadi lebih besar daripada saya sendiri.”